Diet dan Penyakit

Hipertensi pada Atlet: Ancaman Tersembunyi di Balik Performa!

Ketika Tekanan Darah Tak Lagi Sekadar Angka

Pernah nggak sih, kamu dengar teman yang bilang,

“Ah, aku kan rajin olahraga, mana mungkin hipertensi!”

Well… nggak selalu begitu.
Faktanya, hipertensi alias tekanan darah tinggi bisa dialami siapa saja — termasuk atlet dan pelari rekreasional yang kelihatannya fit.

Yup, bahkan kalau kamu rutin lari 10K tiap minggu, punya resting HR 60-an, dan kelihatan sehat di luar, belum tentu pembuluh darahmu baik-baik saja di dalam.
Dan kalau nggak diatur, hipertensi bisa jadi “silent killer” yang pelan-pelan menurunkan performa, bikin recovery melambat, dan dalam kasus ekstrem, berisiko fatal di tengah kompetisi.

Apa Itu Hipertensi, dan Kenapa Atlet Bisa Kena Juga?

Secara simpel, hipertensi terjadi saat tekanan darah dalam pembuluh (arteri) terlalu tinggi — kayak selang air yang terus disemprot dengan tekanan besar.
Tekanan ini bikin dinding arteri menebal, kaku, dan lama-lama bisa rusak.

Normalnya, tekanan darah ideal sekitar 120/80 mmHg.
Tapi kalau udah menyentuh ≥ 130/80 mmHg, apalagi konsisten dalam jangka waktu lama — itu tanda bahaya.

Nah, banyak yang kaget karena ternyata atlet juga bisa hipertensi.
Kok bisa? Bukannya mereka olahraga terus?
Yup — dan di sinilah menariknya. Ada beberapa penyebab unik pada atlet yang nggak terjadi pada orang biasa.

⚙️ Patofisiologi: Kenapa Tekanan Darah Bisa Naik?

Agar gampang dipahami, kita pecah jadi tiga faktor utama yang sering bikin tekanan darah meningkat, termasuk pada atlet

1. Faktor Genetik & Keturunan

Kalau orang tua kamu punya riwayat hipertensi, risiko kamu juga naik.
Gen berperan dalam mengatur keseimbangan hormon dan sistem renin-angiotensin — sistem yang ngatur tekanan darah lewat kontraksi pembuluh dan retensi natrium.
Buat atlet, faktor ini tetap kuat walau kamu rajin olahraga.

2. Retensi Natrium dan Cairan

Tubuh butuh elektrolit (termasuk natrium) buat menjaga kontraksi otot dan fungsi saraf.
Tapi kalau asupan garam berlebihan, atau kamu sering konsumsi sports drink tinggi sodium tanpa memperhitungkan total intake, bisa bikin volume darah meningkat → tekanan naik.

Apalagi kalau kamu jarang minum air putih cukup di luar sesi latihan — keseimbangan cairan bisa terganggu parah.

3. Aktivasi Sistem Saraf Simpatik

Saat latihan intensif atau stres kompetisi, tubuh melepas adrenalin dan noradrenalin.
Dua hormon ini bikin jantung berdetak cepat dan pembuluh darah menyempit.
Kalau kondisi ini sering banget terjadi (misalnya kamu latihan terlalu berat tanpa recovery cukup), sistem saraf simpatik bisa overaktif — bikin tekanan darah sulit turun walau sedang istirahat.

4. ‍ Overtraining & Kurang Tidur

Banyak atlet muda (dan pelari kantoran) suka latihan terus tanpa cukup tidur.
Padahal, kurang tidur = sistem saraf simpatis aktif terus = tekanan darah meningkat.
Ditambah, overtraining syndrome bikin hormon stres (kortisol) naik — efeknya mirip seperti kamu lagi dikejar deadline sambil disuruh sprint .

5. ☕ Suplemen dan Stimulant

Energi drink, fat burner, atau pre-workout yang mengandung kafein tinggi bisa meningkatkan tekanan darah sementara.
Kalau dikonsumsi rutin, apalagi tanpa pengawasan, tekanan bisa tetap tinggi bahkan setelah latihan selesai.

Bahaya Hipertensi Saat Latihan dan Kompetisi

Sekarang bayangkan kamu lagi latihan interval di suhu 30°C, tekanan darah lagi tinggi, jantung dipaksa kerja keras…
Inilah beberapa bahaya serius yang bisa muncul:

1. Risiko Jantung dan Stroke

Tekanan darah tinggi bikin jantung kerja ekstra.
Dinding jantung (khususnya ventrikel kiri) menebal, suplai oksigen ke otot jantung berkurang → risiko aritmia dan serangan jantung meningkat.
Pada kompetisi yang intens, bisa jadi fatal.

Penelitian dari American Heart Association menunjukkan bahwa 1 dari 4 kasus serangan jantung mendadak pada atlet muda disebabkan oleh hipertensi yang nggak terdeteksi.

2. Tekanan ke Otak

Hipertensi kronik bikin pembuluh darah otak rapuh.
Dalam kondisi ekstrem (misalnya panas dan dehidrasi berat), risiko pecahnya pembuluh otak meningkat — alias stroke.

3. Gangguan Ginjal

Ginjal adalah “filter alami” darah. Kalau tekanan darah tinggi terus, pembuluh darah di ginjal bisa rusak → kemampuan menyaring limbah berkurang.
Efek jangka panjangnya? Kadar kreatinin naik, performa atlet menurun karena kelelahan kronis.

‍♂️ 4. Recovery Melambat

Otot yang baru dilatih butuh oksigen dan nutrisi buat pulih. Tapi kalau tekanan darah tinggi, elastisitas pembuluh darah menurun → aliran darah ke otot berkurang.
Akhirnya, pemulihan jadi lebih lambat, pegal lebih lama, performa pun stagnan.

⚕️ Hipertensi dan “Athlete’s Heart”: Mirip Tapi Beda!

Beberapa atlet mengalami apa yang disebut athlete’s heart — jantung membesar karena adaptasi terhadap latihan intens.
Sekilas mirip hipertensi, tapi berbeda.

  • Athlete’s heart: pembesaran karena adaptasi sehat (jantung efisien memompa).
  • Hipertensi: pembesaran patologis (dinding menebal karena tekanan tinggi).

Bedanya bisa dideteksi lewat EKG, echocardiography, dan pemeriksaan tekanan darah saat istirahat.

Kalau kamu sering merasa jantung “berdebar nggak wajar” setelah istirahat panjang, sebaiknya cek tekanan darah dan konsultasi ke dokter olahraga.

Nutrisi dan Gaya Hidup: Cara Jitu Menekan Tekanan Darah

Kalau hipertensi udah terdeteksi, bukan berarti kamu harus berhenti olahraga.
Kuncinya: kendalikan faktor risiko dan optimalkan nutrisi.

1. Kurangi Asupan Garam

Garam memang penting, tapi kalau berlebihan bisa bikin tubuh menahan air dan meningkatkan tekanan darah.
Batasi konsumsi maksimal 1 sendok teh (5 gram) garam per hari.

Tips:

  • Kurangi makanan olahan (sosis, nugget, keripik).
  • Gunakan bumbu alami seperti bawang putih, jeruk nipis, atau rempah.

2. Perbanyak Kalium, Magnesium, dan Kalsium

Mineral ini bantu mengendurkan pembuluh darah dan menurunkan tekanan darah.

Sumber alami:

  • Kalium: pisang, alpukat, bayam, kentang rebus.
  • Magnesium: kacang-kacangan, oatmeal, cokelat hitam.
  • Kalsium: susu rendah lemak, yogurt, ikan teri.

3. Hidrasi Cukup

Dehidrasi bikin volume darah turun → jantung harus memompa lebih kuat untuk sirkulasi.
Minum air cukup sebelum, saat, dan sesudah latihan.
Gunakan warna urin sebagai panduan: kuning muda = cukup, kuning pekat = kurang cairan.

4. Terapkan Pola Makan DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension)

DASH diet sudah terbukti menurunkan tekanan darah hingga 11 mmHg dalam 2 minggu.
Prinsipnya: tinggi buah, sayur, biji-bijian, rendah garam, lemak jenuh, dan gula tambahan.

☀️ 5. Jaga Berat Badan Ideal

Penurunan 5 kg berat badan bisa menurunkan tekanan darah hingga 5–10 mmHg.
Gunakan defisit kalori sehat dan tetap konsumsi cukup protein untuk menjaga massa otot.

️‍♀️ Latihan Aman untuk Atlet dengan Hipertensi

Kamu tetap bisa latihan, asal paham aturannya.
Menurut panduan American College of Sports Medicine (ACSM), latihan aerobik ringan hingga sedang justru membantu menurunkan tekanan darah.

1. Fokus pada Aerobik Konsisten

  • Jalan cepat, bersepeda santai, berenang, yoga, atau lari ringan.
  • Durasi: 30–45 menit, 4–5 kali per minggu.
  • Intensitas: jaga detak jantung di 60–70% dari HRmax.

2. Hindari Latihan Isometrik Berat

Latihan tahan napas saat mengangkat beban (Valsalva maneuver) bisa lonjakkan tekanan darah tiba-tiba.
Kalau ingin tetap latihan kekuatan, gunakan beban sedang, napas teratur, dan hindari mengejan.

3. Pemanasan dan Pendinginan Wajib!

Pemanasan bantu menyiapkan jantung dan pembuluh darah.
Pendinginan bantu turunkan tekanan darah secara bertahap, mencegah pusing mendadak setelah latihan.

4. Monitor Tekanan Darah Secara Rutin

Gunakan tensimeter digital, ukur pagi hari sebelum latihan.
Catat hasilnya tiap minggu buat memantau progres dan respons tubuh terhadap program latihan.

Recovery Lebih Cerdas buat Atlet Hipertensi

Atlet hipertensi butuh strategi recovery yang lebih cermat.
Tujuannya bukan cuma mengembalikan performa, tapi juga menjaga kestabilan tekanan darah.

Tidur Berkualitas

Tidur <6 jam meningkatkan risiko hipertensi 20–30%.
Buat rutinitas tidur: matikan layar 1 jam sebelum tidur, jaga suhu kamar sejuk, dan hindari makan besar sebelum tidur.

‍♂️ Manajemen Stres

Stres bikin hormon kortisol naik, yang akhirnya menekan pembuluh darah.
Coba teknik seperti:

  • Box breathing (tarik napas 4 detik, tahan 4, hembuskan 4).
  • Mindful stretching atau meditasi ringan.
  • Kegiatan santai kayak baca atau jalan sore.

Recovery Drink Rendah Sodium

Gunakan air kelapa, jus semangka, atau smoothie pisang + susu rendah lemak.
Selain hidrasi, kombinasi ini bantu menyeimbangkan elektrolit tanpa menambah tekanan darah.

Cek Dini = Kunci Utama

Banyak atlet muda yang merasa “nggak mungkin hipertensi” karena masih aktif. Padahal, data dari Kemenkes (Riskesdas 2023) menunjukkan peningkatan prevalensi hipertensi pada usia 18–34 tahun mencapai 13,2%, dan banyak yang nggak sadar punya tekanan darah tinggi.

Kalau kamu:

  • Sering sakit kepala setelah latihan,
  • Mudah lelah padahal latihan rutin,
  • Detak jantung terasa cepat tanpa sebab,

saatnya cek tekanan darah ke fasilitas kesehatan atau dokter olahraga.

Sehat Nggak Cuma Soal Kuat, Tapi Juga Tekanan yang Terkontrol

Kuat, cepat, dan punya pace stabil itu keren. Tapi punya tekanan darah sehat jauh lebih penting.
Hipertensi bukan akhir dari perjalanan atletikmu, asal kamu tahu cara menanganinya.

Kuncinya ada tiga:

  1. Kenali — jangan denial.
  2. Kendalikan lewat gizi, tidur, dan latihan bijak.
  3. Konsisten monitor tekanan darah dan recovery.

Ingat, performa terbaik datang bukan dari seberapa keras kamu latihan, tapi seberapa pintar kamu menjaga tubuh.

Stay fit, stay calm, stay balanced. Karena performa puncak butuh tekanan yang terkontrol — bukan tekanan darah tinggi.

Referensi

  1. American College of Sports Medicine (ACSM). (2022). Exercise Management for Hypertension.
  2. Whelton, P.K. et al. (2018). 2017 ACC/AHA/AAPA/ABC Hypertension Guidelines.
  3. Burke, L.M., Deakin, V. (2021). Clinical Sports Nutrition, 6th Ed.
  4. Kementerian Kesehatan RI. (2023). Riskesdas: Prevalensi Hipertensi Indonesia.
  5. Pescatello, L.S. et al. (2019). ACSM’s Guidelines for Exercise Testing and Prescription.

 

Indra Jaya

Dietisien, sport nutrition enthusiast,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button