Peran Sport Nutrition dalam Sistem Pembinaan Olahraga Nasional di Indonesia
(insight dari penelitian, tantangan & rekomendasi)

Pendahuluan
Dalam dunia olahraga, aspek teknis dan latihan fisik sering mendapat perhatian utama. Namun salah satu elemen yang tak kalah kritis adalah nutrisi olahraga (sport nutrition) — yaitu pengaturan asupan energi, makronutrien, mikronutrien, hidrasi, suplementasi, dan strategi makan lain yang disesuaikan dengan kebutuhan atlet.
Di Indonesia, dalam beberapa tahun terakhir, dunia pembinaan atlet—termasuk melalui Pusat Pelatihan Olahraga Pelajar (PPOP), sekolah olahraga (SKO), klub-klub regional, dan akademi seperti ASIFA (Aji Santoso International Football Academy)—mulai menyadari bahwa pendampingan nutrisi bukan sekadar “tambahan”, melainkan bagian integral dari program prestasi. Fungsi ahli gizi di PPLP (Pusat Pembinaan dan Latihan Olahraga Pelajar) atau SPOBNAS (Sistem Pembinaan Olahraga Nasional)adalah untuk mengoptimalkan performa atlet melalui strategi gizi yang tepat. Tugas utamanya meliputi penyusunan rencana makan khusus, edukasi nutrisi, pemantauan status gizi, serta memastikan asupan nutrisi mendukung latihan, pemulihan, dan mencegah cedera
Menurut Ketua Umum ISNA (Indonesian Sport Nutritionist Association ) ibu Mirza Hapsari, “Ahli gizi yang ditugaskan di setiap lokasi penempatan PPLP dan SKO menjalankan SOP ahli gizi yang telah disusun oleh tim Pilot Project. Masih sering dianggap bahwa kerjaan ahli gizi hanya persoalan menu, padahal aktifitas yg harus dilakukan sebelum bicara menu cukup banyak lho”. Berikut adalah kegiatan yang dilakukan oleh ahli gizi yang meliputi asesmen awal, pendampingan latihan, pendampingan makan, serta penyampaian edukasi terkait gizi kepada seluruh atlet. “Harapan kami ahli gizi bisa bekerja full timer di lingkungan pendampingan atlet di Indonesia”. pungkasnya.
Banyak penelitian menunjukkan bahwa atlet Indonesia—khususnya di level pembinaan (remaja atau atlet muda)—sering mengalami defisit energi (energi masuk < energi yang dikeluarkan), atau ketidakseimbangan makronutrien (misalnya protein atau karbohidrat kurang, lemak relatif tinggi).
-
Penelitian Peran Asupan, Status Gizi dan Komposisi Tubuh terhadap Daya Tahan Otot Atlet Silat Remaja PPOP DKI Jakarta menunjukkan bahwa asupan gizi (energi dan makronutrien) serta status gizi berhubungan dengan performa fisik atlet silat remaja. journal.ipb.ac.id
-
Studi Athlete and Coach’s Perspectives on Sports Nutritionists’ Role in Enhancing Sports Performance in Indonesia melaporkan bahwa 80,8% atlet daya tahan (endurance) melaporkan konsumsi karbohidrat mereka kurang dari rekomendasi, dan sekitar 70% atlet memiliki pola makan yang tidak ideal dibandingkan kebutuhan performa. ResearchGate
-
Penelitian di cabang olahraga permainan di Jakarta (51 atlet SMA) menemukan bahwa asupan karbohidrat berkorelasi positif dengan kebugaran jasmani (p = 0,044) dan pengetahuan gizi juga sangat berkorelasi (p = 0,000). jikm.upnvj.ac.id
Dari data di atas, terlihat bahwa problem nutrisi atlet muda Indonesia tidak hanya soal “apakah ada nutrisionis” atau tidak, tetapi pada kualitas dan kepatuhan pola makan sesuai kebutuhan.
Pengetahuan Gizi & Persepsi Pemangku Kepentingan
Sebagai contoh, studi di ASIFA (U-15) mengevaluasi hubungan antara pengetahuan gizi dan frekuensi konsumsi minuman isotonik terhadap status kebugaran, tetapi hasilnya tidak menunjukkan hubungan signifikan (p > 0,05). Ini mungkin menandakan bahwa hanya pengetahuan saja tidak cukup tanpa pendampingan atau penerapan praktik diet yang baik. UB Repository
Studi kasus lebih luas (tesis “Perilaku Makan Atlet dan Perspektif Atlet, Pelatih, Ahli Gizi dan Pengelola Sekolah Olahraga”) menemukan bahwa banyak PPOP, SKO, dan klub olahraga belum memiliki ahli gizi tetap, dan sistem penyelenggaraan nutrisi masih sangat bergantung pada individu yang peduli atau inisiatif lokal. ETD UGM
Bukti Efektivitas Pendampingan Nutrisi: Penelitian Lokal Program Pendampingan Gizi Intensif pada Atlet Bela Diri
Salah satu penelitian lokal yang relatif kuat adalah Intensive Sports Nutrition Program Improving Body Composition and Energy Intake among Elite Combat Sport Athletes (Universitas Airlangga). Dalam penelitian ini:
-
Durasi intervensi: 4 bulan (Juni–September 2019). ResearchGate+1
-
Responden: 24 atlet bela diri.
-
Bentuk pendampingan: kunjungan ahli gizi olahraga ke atlet setiap bulan, edukasi gizi, konseling, dan bantuan menu sehat. E-Journal Universitas Airlangga
-
Hasil:
• Asupan energi rata-rata meningkat dari ~1.496,2 ± 654,4 menjadi ~1.688,5 ± 679,8 (p = 0,002) E-Journal Universitas Airlangga+1
• Fat-Free Mass (FFM) meningkat signifikan (56,57 → 57,01 kg, p = 0,032) E-Journal Universitas Airlangga
• Skeletal Muscle Mass (SMM) juga mengalami kenaikan yang signifikan (27,49 → 27,75, p = 0,005) E-Journal Universitas Airlangga
• Variabel lemak tubuh (FM) tidak mengalami perubahan signifikan. E-Journal Universitas Airlangga
Penelitian ini secara jelas menunjukkan bahwa pendampingan gizi olahraga secara intensif dapat memperbaiki asupan energi dan meningkatkan massa bebas lemak atlet, yang menjadi salah satu indikator positif dalam upaya meningkatkan performa.
Pendampingan Gizi untuk Atlet Sepak Bola di Klub Pakuan City FC
Dalam program pengabdian masyarakat di klub sepak bola Pakuan City FC (Jawa Barat), dilakukan intervensi gizi: asesmen awal, edukasi, konsultasi gizi, monitoring status gizi dan performa. Hasilnya menunjukkan peningkatan pengetahuan gizi, perbaikan komposisi tubuh (indeks massa tubuh, lemak) dan peningkatan performa fisik (distance per minute meningkat dari ~98 menjadi ~108 meter/menit). journalmpci.com
Walaupun penelitian ini merupakan intervensi non-random terstruktur di komunitas tingkat klub, hasilnya memberikan bukti nyata bahwa pendampingan gizi praktis dapat berdampak positif bahkan dalam skala amatir/provinsi.
Pendampingan Gizi di Atlet Taekwondo untuk Pra-Kualifikasi Olimpiade
Sebuah prosiding lokal menyoroti bahwa pendampingan gizi atlet taekwondo Indonesia (untuk persiapan pra-kualifikasi Olimpiade) telah diterapkan. Intervensi ini mencakup edukasi gizi, penyusunan menu, pemantauan dan penyesuaian diet. Hasilnya menunjukkan bahwa dengan pendampingan gizi, atlet lebih mampu menjaga komposisi tubuh optimal (mengurangi lemak yang tidak diperlukan, menjaga massa otot) dan memperbaiki variabel performa terkait. prosiding.esaunggul.ac.id
Pendampingan di Atlet Dance Sport di Sulawesi Selatan
Sebuah proyek pengabdian di Sulawesi Selatan melakukan pendampingan program latihan dan edukasi gizi seimbang bagi atlet dance sport. Hasil pre-post test menunjukkan peningkatan pengetahuan atlet sekitar 35%, serta peningkatan kepatuhan terhadap program dan peningkatan performa teknis. Jurnal Abdi Masyarakat
Hubungan dengan Program PPOP & ASIFA
Peran Ahli Gizi di ASIFA
Menurut dokumen internal, ASIFA memiliki satu orang tenaga ahli gizi yang melekat di asrama (sistem boarding). ejournal.poltekkesaceh.ac.id Hal ini menunjukkan bahwa institusi pembinaan atlet mulai mengakui pentingnya peran ahli gizi dalam mendukung hidup sehari-hari atlet.
Namun, seperti yang ditunjukkan dalam studi Perilaku Makan Atlet… (tesis) bahwa masih banyak sekolah olahraga dan PPOP yang belum memiliki ahli gizi tetap sebagai kebijakan, dan nutrisi atlet sering menjadi “tugas tambahan” daripada bagian sistematis program prestasi. ETD UGM
PPOP & Kebugaran Atlet
Dalam penelitian Peran Asupan, Status Gizi dan Komposisi Tubuh terhadap Daya Tahan Otot Atlet Silat Remaja PPOP DKI Jakarta, ditemukan bahwa status gizi dan komposisi tubuh sangat memengaruhi ketahanan otot atlet silat remaja di PPOP. Artinya, PPOP sebagai pusat pelatihan remaja sangat memerlukan integrasi aspek sport nutrition ke dalam program latihan. journal.ipb.ac.id
Selain itu, penelitian Konseling dan Pendampingan Gizi untuk Atlet Sepakbola PS UNNES mengindikasikan bahwa sebagian atlet mengalami masalah gizi kurang ketika tidak ada pendampingan gizi yang konsisten. Jurnal UNJ
Dengan kata lain, institusi seperti PPOP dan klub-klub prestasi lokal memiliki peluang besar untuk meningkatkan outputnya melalui integrasi sport nutrition ke dalam manajemen atlet.
Mekanisme dan Alur Pendampingan Sport Nutrition
Agar pendampingan gizi atlet efektif, berikut kerangka mekanisme yang ideal:
-
Asesmen Awal (Baseline)
-
Pengukuran antropometri (berat, tinggi, % lemak tubuh, FFM)
-
Analisis konsumsi makanan (recall 24 jam, food frequency)
-
Penilaian kebiasaan makan, suplemen, toleransi makanan
-
Evaluasi pelatihan (volume, intensitas)
-
Penilaian kondisi medis (defisiensi mikronutrien, anemia, dsb.)
-
-
Penyusunan Rencana Gizi Individu
-
Menentukan kebutuhan energi harian (TEE)
-
Proporsi makronutrien (karbohidrat, protein, lemak) sesuai fase latihan
-
Strategi penyebaran makan sepanjang hari (pre, during, post training)
-
Rencana suplementasi jika diperlukan
-
Strategi hidrasi dan elektrolit
-
-
Edukasi dan Konseling Rutin
-
Materi: fungsi nutrisi, timing makan, food prep, strategi adjust
-
Konseling untuk hambatan (selera, anggaran, akses pangan)
-
Pemantauan mingguan / bulanan
-
-
Intervensi Menu & Monitoring Kepatuhan
-
Penyediaan contoh menu lokal sesuai sumber pangan Indonesia
-
Variasi adaptif (sesuai latar belakang regional, preferensi atlet)
-
Monitoring kepatuhan (log makan, foto makanan)
-
-
Evaluasi Berkala & Penyesuaian
-
Ukuran performa (uji fisik, kompetisi)
-
Komposisi tubuh ulang
-
Umpan balik atlet / pelatih
-
Penyesuaian berdasarkan fase latihan (base, intensitas, tapering, peaking)
-
Manfaat Signifikan dari Pendampingan Nutrisi
Berikut beragam manfaat konkret yang sudah terbukti atau sangat mungkin terjadi berdasarkan literatur:
| Manfaat | Penjelasan / Bukti |
|---|---|
| Peningkatan asupan energi & makronutrien secara lebih tepat | Atlet dengan pendampingan gizi di studi bela diri menunjukkan peningkatan asupan harian secara signifikan. E-Journal Universitas Airlangga |
| Peningkatan massa bebas lemak / otot | Dalam penelitian sama, FFM dan SMM meningkat signifikan. E-Journal Universitas Airlangga |
| Stabilitas komposisi tubuh | Dengan pengaturan diet, atlet mampu menghindari kenaikan lemak berlebihan selama fase persiapan atau off-season. |
| Performa fisik lebih baik | Klub Pakuan City FC dengan gizi intervensi menunjukkan peningkatan “distance per minute” dalam evaluasi performa fisik klub. journalmpci.com |
| Efektivitas biaya yang lebih baik | Studi Efektivitas Biaya Program Pendampingan Gizi menyimpulkan bahwa meskipun biaya meningkat, proporsi atlet dengan performa sesuai standar meningkat dari 60,7% menjadi 77,5%, menjadikan intervensi gizi cost-effective. ETD UGM |
| Kepatuhan dan kesadaran nutrisi lebih tinggi | Proyek edukasi gizi di Sulawesi Selatan pada atlet dance sport menunjukkan peningkatan pengetahuan gizi sekitar 35% dan kepatuhan program latihan. Jurnal Abdi Masyarakat |
| Hubungan gizi & kebugaran atlet muda | Riset di Jakarta (atlet permainan) menunjukkan bahwa asupan karbohidrat dan pengetahuan gizi berkorelasi positif dengan kebugaran jasmani (Cooper test) (p = 0,044 dan p = 0,000). jikm.upnvj.ac.id |
Hambatan dan Tantangan Implementasi
Walau manfaatnya nyata, penerapan sport nutrition di Indonesia masih menghadapi berbagai hambatan:
-
Minimnya Tenaga Ahli Gizi di Pusat Pelatihan
Banyak PPOP, SKO, klub lokal belum memiliki ahli gizi tetap, sehingga nutrisi atlet sering diabaikan atau diandalkan sukarela. ETD UGM+1 -
Keterbatasan Anggaran & Sumber Daya
Penelitian efektivitas biaya menunjukkan bahwa meskipun efektif, intervensi gizi memerlukan alokasi biaya tambahan yang belum banyak diprioritaskan dalam anggaran olahraga. ETD UGM -
Kepatuhan Atlet & Preferensi Pribadi
Atlet (terutama muda) mungkin enggan mengikuti menu yang dianggap “tidak enak” atau berbeda dari kebiasaan. Konseling intensif dan adaptasi menu lokal diperlukan. -
Akses Pangan Sehat & Ketersediaan
Di daerah terpencil atau kurang urbannya, bahan pangan bergizi atau bahan baku khusus (misalnya sumber protein tinggi) mungkin sulit dijangkau atau mahal. -
Kurangnya Data & Riset Spesifik Terapan
Masih sedikit penelitian eksperimental jangka panjang di Indonesia yang mengukur dampak langsung pendampingan nutrisi terhadap prestasi kompetisi (PPOP, ASIFA, atau cabang olahraga besar). -
Budaya & Kebiasaan Makan Lama
Kebiasaan konsumsi makanan cepat saji, snack manis, dan kurangnya pemahaman tentang nutrisi membuat intervensi edukasi gizi menjadi tantangan budaya
Rekomendasi agar Sport Nutrition Lebih Efektif di Program Atletik Indonesia
Berdasarkan wawasan dari literatur dan kondisi lokal, berikut beberapa rekomendasi praktis:
-
Integrasi Ahli Gizi ke Struktur Pelatihan Resmi
Setiap PPOP, SKO, atau klub prestasi setidaknya memiliki satu ahli gizi atau dietisien olahraga yang menjadi anggota tim inti pembinaan atlet. -
Program Pendidikan Gizi Bagi Pelatih & Manajemen
Berikan pelatihan dasar nutrisi olahraga bagi pelatih, manajemen klub, dan orang tua atlet agar ada kesamaan visi mendukung nutrisi. -
Model Pendampingan Hybrid (Offline + Digital)
Untuk menjangkau atlet di daerah jauh, gunakan platform daring (video edukasi, konsultasi via aplikasi) sambil tetap adakan sesi tatap muka reguler. -
Menu Lokal yang Praktis & Terjangkau
Susun menu berbasis pangan lokal (nasi, ubi, sayur lokal, ikan lokal, kacang-kacangan) agar mudah diterapkan dan mudah diterima. -
Monitoring Kepatuhan & Evaluasi Berkala
Gunakan log makan (foto makanan), pengukuran berkala (komposisi tubuh, uji performa fisik), dan feedback atlet sebagai dasar penyesuaian. -
Riset Terapan Jangka Panjang & Kolaborasi
Dukung penelitian intervensi gizi jangka panjang di berbagai cabang olahraga dan wilayah agar data lokal terus bertambah dan bisa dijadikan acuan kebijakan. -
Advokasi Anggaran & Kebijakan
Dorong lembaga olahraga, pemerintah daerah, dan Kemenpora/Komite Olimpiade agar mengalokasikan anggaran khusus untuk nutrisi atlet dalam program prestasi nasional.
Kesimpulan
Sport nutrition bukan hanya “pelengkap” dalam program atletik, melainkan faktor fundamental yang mempengaruhi komposisi tubuh, performa, pemulihan, dan kesehatan jangka panjang atlet.
Bukti dari penelitian lokal (di antaranya di atlet bela diri, sepakbola, dance sport) menunjukkan bahwa pendampingan gizi secara intensif dapat meningkatkan asupan energi, massa bebas lemak, dan performa fisik. Institusi pembinaan atlet Indonesia seperti PPOP dan klub-klub lokal (termasuk ASIFA) sedang berada di momen yang krusial untuk memasukkan nutrisi ke dalam struktur pembinaan formal mereka.
Implementasi sport nutrition di Indonesia memang memiliki tantangan — dari ketersediaan ahli gizi hingga kepatuhan atlet dan keterbatasan anggaran. Namun, dengan strategi integratif, edukasi, menu lokal, dan dukungan kebijakan, sport nutrition bisa menjadi pembeda nyata dalam prestasi atlet Indonesia ke depan.


