Serba-Serbi

Misteri Marathon; Kenapa Banyak Pelari Maraton ‘Tumbang’ di KM 30

Panduan Fueling dan Hidrasi Marathon

Lari maraton (42,195 km) bukan sekadar ujian kekuatan otot atau ketahanan mental, melainkan kompetisi manajemen energi biologis. Secara fisiologis, tubuh manusia mengandalkan dua bahan bakar utama selama olahraga aerobik intensitas sedang hingga tinggi: karbohidrat (disimpan sebagai glikogen di hati dan otot) dan lemak.
Meskipun simpanan lemak tubuh hampir tak terbatas, laju pembakarannya terlalu lambat untuk mempertahankan kecepatan lari maraton yang kompetitif. Sebaliknya, simpanan glikogen tubuh sangat terbatas—rata-rata hanya berkisar antara 1.800 hingga 2.000 kalori (sekitar 400–500 gram karbohidrat). Jumlah ini umumnya hanya cukup untuk menopang lari intensitas maraton selama 75 hingga 90 menit.
Tanpa asupan energi eksogen dan cairan yang terencana, pelari akan mengalami penurunan performa secara drastis di pertengahan hingga akhir perlombaan. Keberhasilan menuntaskan maraton tanpa penurunan laju lari yang signifikan dipengaruhi oleh pemahaman pelari terhadap kebutuhan bahan bakar dan keseimbangan cairan tubuh mereka.

Sebagian besar pelari maraton—baik pemula maupun veteran—kerap menghadapi kendala fisik mendasar akibat kegagalan strategi nutrisi dan hidrasi:

Menabrak “The Wall” (Hitting the Wall)

Fenomena ini terjadi saat simpanan glikogen otot benar-benar habis. Secara mendadak, tubuh terpaksa mengandalkan metabolisme lemak secara penuh. Gejalanya meliputi rasa lelah yang sangat hebat, kaki terasa berat seperti semen, pusing, dan penurunan kecepatan lari yang signifikan.

Masalah Pencernaan (Gastrointestinal Distress)

Selama berlari intensif, aliran darah didistribusikan secara dominan ke otot-otot rangka dan kulit untuk pendinginan, sementara aliran darah ke sistem pencernaan berkurang hingga 80%. Mengonsumsi gula berlebihan atau dengan rasio yang salah dalam kondisi ini sering memicu mual, kram perut, muntah, hingga diare saat berlari.

Hiponatremia (Exercise-Associated Hyponatremia)

Terjadi ketika pelari mengonsumsi air putih dalam jumlah berlebihan tanpa mengimbangi asupan natrium (garam). Hal ini mengencerkan kadar natrium dalam darah hingga ke tingkat yang berbahaya, memicu pusing, mual, pembengkakan jaringan, hingga kebingungan mental.

Dehidrasi dan Hipertermia

Kehilangan cairan tubuh melalui keringat melebihi 2% dari berat badan dapat menurunkan volume sekuncup jantung (stroke volume), meningkatkan denyut jantung untuk intensitas yang sama (cardiovascular drift), serta mengganggu kemampuan tubuh mengalirkan panas ke kulit.

Fisiologi Karbohidrat dan Pengangkutan Gula

Untuk mencegah kram dan gangguan pencernaan, pemahaman tentang transporter gula di usus halus sangat krusial:
  • Glukosa dan Maltodekstrin: Diserap melalui jalur penyerap Sodium-Glucose Linked Transporter 1 (SGLT1). Kapasitas maksimal penyerapan jalur ini adalah sekitar 60 gram per jam.
  • Fruktosa: Diserap melalui jalur Glucose Transporter 5 (GLUT5).
Jika pelari hanya mengonsumsi glukosa/maltodekstrin, penyerapan karbohidrat akan tertahan di angka 60 gram per jam. Namun, menggabungkan maltodekstrin dan fruktosa dengan rasio 1 : 0.8 atau 2 : 1 mengaktifkan kedua jalur pengangkut secara bersamaan. Kombinasi ini memungkinkan usus menyerap hingga 90 gram (bahkan 120 gram pada atlet terlatih) karbohidrat per jam tanpa memicu gangguan pencernaan.

Termoregulasi dan Keseimbangan Elektrolit

Keringat bukan hanya mengandung air, tetapi juga elektrolit utama:
  • Natrium (Sodium): Elektrolit paling dominan yang hilang lewat keringat (berkisar antara 200 mg hingga 1.500 mg per liter keringat, tergantung bawaan genetik dan aklimatisasi cuaca). Natrium berfungsi mempertahankan tekanan osmotik darah dan merangsang rasa haus.
  • Kalium, Magnesium, dan Kalsium: Berperan dalam fungsi kontraksi dan relaksasi otot serta transmisi impuls saraf.
Pendekatan fueling dan hidrasi modern didasari oleh berbagai temuan ilmiah bereputasi tinggi:
  1. Jumlah Asupan Karbohidrat per Jam (Jeukendrup, 2014)
    Penelitian oleh Prof. Asker Jeukendrup menunjukkan bahwa untuk olahraga ketahanan berdurasi lebih dari 2,5 jam, target asupan karbohidrat ideal adalah 60–90 gram per jam menggunakan karbohidrat ganda (multiple transportable carbohydrates). Asupan ini terbukti secara konsisten meningkatkan daya tahan dan menunda kelelahan dibandingkan asupan rendah (30 gram/jam) atau hanya air putih.
  2. Adaptasi Gut Training (Jeukendrup et al., 2017)
    Sistem pencernaan manusia bersifat adaptif (trainable). Penelitian membuktikan bahwa melatih pencernaan dengan mengonsumsi karbohidrat tinggi saat latihan intensif selama beberapa minggu meningkatkan regulasi transporter SGLT1 dan GLUT5. Hasilnya, kapasitas penyerapan nutrisi meningkat dan risiko masalah pencernaan saat lomba berkurang drastis.
  3. Hidrasi Berdasarkan Sweat Rate vs Drinking to Thirst (Noakes et al. / ACSM Position Stand)
    American College of Sports Medicine (ACSM) merekomendasikan formulasi strategi hidrasi khusus berdasarkan laju keringat individu (customized fluid replacement plan) untuk mencegah dehidrasi >2% dari massa tubuh. Sebaliknya, peneliti seperti Dr. Tim Noakes menekankan pentingnya drinking to thirst (minum saat merasa haus) untuk mencegah hiponatremia akibat hidrasi berlebihan (overhydration). Pendekatan terbaik bagi mayoritas pelari adalah menggabungkan keduanya: membuat rencana hidrasi terukur namun tetap mendengarkan sinyal haus tubuh.
  4. Dosis Natrium saat Maraton (Del Coso et al., 2016)
    Studi eksperimental menunjukkan bahwa pelari yang mengonsumsi suplemen garam (natrium) bersamaan dengan cairan elektrolit selama maraton menyelesaikan lomba lebih cepat dan mempertahankan keseimbangan elektrolit darah lebih baik dibandingkan kelompok yang hanya mengonsumsi minuman olahraga standar.
Strategi nutrisi dan hidrasi harus disimulasikan jauh sebelum hari perlombaan, khususnya saat sesi Long Run. Berikut panduan tahapannya:

A. Fase Persiapan (Carbo-Loading: H-3 hingga H-1)

  • Target: 8–10 gram karbohidrat per kg berat badan per hari selama 36–48 jam sebelum perlombaan.
  • Prinsip: Naikkan porsi karbohidrat, bukan total kalori secara ekstrem. Kurangi asupan serat, lemak, dan protein tinggi agar perut tidak terasa penuh atau kembung.
  • Pilihan Makanan: Nasi putih, pasta, kentang tanpa kulit, roti tawar, oatmeal halus, jus buah, dan minuman berkarbohidrat tinggi.

B. Sebelum Start (H-3 s.d. H-2 Jam)

  • Sarapan (3–4 Jam Sebelum Start): 1–2 gram karbohidrat per kg berat badan. Contoh: Roti tawar dengan selai pisang/madu, atau oatmeal dengan sedikit susu nabati. Hindari makanan berminyak atau pedas.
  • Hidrasi: Minum 500 ml air putih atau minuman elektrolit secara perlahan 2–3 jam sebelum start.
  • 15–30 Menit Sebelum Start: 1 energy gel (20–30 gram karbohidrat) dengan 150–200 ml air putih untuk mengisi kesiapan awal pasokan darah.

C. Eksekusi Saat Lomba (Di Lintasan)

+-----------------------------------------------------------------------+
|                       STRATEGI PER JAM DI LINTASAN                     |
+-----------------------------------------------------------------------+
|  Waktu       | Asupan Karbohidrat      | Asupan Cairan & Elektrolit   |
+--------------+-------------------------+------------------------------+
|  Jam 1       | 30 - 45 gram            | 400 - 600 ml air / elektrolit|
|              | (1 - 1,5 gel)           |                              |
+--------------+-------------------------+------------------------------+
|  Jam 2       | 60 - 75 gram            | 400 - 600 ml (tambah natrium)|
|              | (2 - 2,5 gel)           |                              |
+--------------+-------------------------+------------------------------+
|  Jam 3++     | 60 - 90 gram            | 400 - 600 ml (sesuai haus &  |
|              | (2,5 - 3 gel)           | cuaca)                       |
+-----------------------------------------------------------------------+
  • Manajemen Gel: Konsumsi gel secara teratur setiap 30–45 menit, bukan menunggu sampai merasa lelah. Selalu dorong konsumsi gel dengan air putih (bukan minuman olahraga berkalori tinggi) agar osmolalitas di dalam lambung tidak terlalu pekat.
  • Stasiun Minum (Water Station): Ambil air di stasiun minum awal meskipun belum merasa sangat haus. Gunakan teknik memencet bagian atas gelas kertas hingga berbentuk corong kecil agar cairan tidak tumpah saat diminum sambil berlari.
  • Natrium/Garam: Jika cuaca panas dan lembap atau jika Anda termasuk pelari dengan kadar garam tinggi pada keringat (salty sweater—ditandai dengan kerak putih di baju/wajah), konsumsi 300–600 mg natrium per jam melalui suplemen garam (salt caps) atau isotonik.

D. Pemulihan Pasca-Lomba (Post-Race)

  • 30 Menit Pertama: Asup karbohidrat dan protein dengan rasio 3:1 atau 4:1 (contoh: susu cokelat atau minuman pemulihan) untuk mempercepat sintesis glikogen dan perbaikan jaringan otot.
  • Hidrasi Pemulihan: Timbang berat badan pasca-lari. Untuk setiap 1 kg berat badan yang hilang, konsumsi sekitar 1,2 hingga 1,5 liter cairan pengganti bergaram secara bertahap selama beberapa jam berikutnya.
Eksekusi nutrisi di lapangan kerap menemui dinamika yang memerlukan penyesuaian instingtif:

Pentingnya Melatih Sistem Pencernaan (Gut Training)

Banyak pelari mengalami mual bukan karena jenis produk gel yang salah, melainkan karena usus mereka belum terbiasa menerima beban karbohidrat tinggi pada kondisi denyut jantung tinggi. Gut training minimal dilakukan selama 6–8 minggu sebelum hari perlombaan pada setiap sesi Long Run.

Perhitungan Sweat Rate Mandiri

Untuk mengetahui kebutuhan cairan individual secara presisi:
  1. Timbang berat badan tanpa pakaian sebelum lari 1 jam ($W_1$).
  2. Lari selama 1 jam pada kecepatan target maraton tanpa minum.
  3. Timbang berat badan tanpa pakaian setelah lari ($W_2$).
  4. Total Kehilangan Keringat = $W_1 – W_2$.
Jika selisihnya adalah 0,8 kg, maka sweat rate Anda adalah 800 ml per jam. Targetkan untuk mengganti setidaknya 60–70% dari total cairan yang hilang tersebut selama perlombaan.

Menghindari Kesalahan Umum

  • Mencoba Produk Baru saat Lomba: Jangan mengonsumsi merk gel, tablet elektrolit, atau jenis makanan baru yang dibagikan di stasiun minum jika belum pernah diuji saat latihan.
  • Terlalu Mengandalkan Air Putih Saja: Meminum air murni dalam jumlah sangat besar pada cuaca panas tanpa asupan garam berisiko tinggi memicu hiponatremia.
Keberhasilan dalam lari maraton tidak semata-mata ditentukan oleh total kilometer latihan yang ditempuh selama minggu-minggu persiapan, melainkan juga oleh ketepatan strategi fueling dan hidrasi yang diterapkan. Karbohidrat adalah pembatas utama performa endurance; tanpa asupan eksogen sebesar 60–90 gram per jam dengan rasio gula ganda, penurunan kapasitas fisik menuju batas maraton hampir tak terelakkan.
Begitu pula dengan cairan dan elektrolit—pendekatan yang seimbang antara pencegahan dehidrasi ekstrem dan penghindaran hidrasi berlebih (overhydration) merupakan kunci menjaga efisiensi kardiovaskular serta termoregulasi tubuh. Dengan merencanakan secara terukur, melatih sistem pencernaan seawal mungkin, dan mengeksekusi intake nutrisi secara disiplin sejak kilometer awal, pelari dapat memaksimalkan potensi fisiknya dan mencapai garis finis dengan performa optimal.
So siapkan diri sebaik mungkin, dengan latihan yang disiplin dan konsisten pada saatnya kita akan menjadi pelari marathon yang hanya bisa dicapai oleh 1 % dari populasi penduduk bumi.

Indra Jaya

Dietisien, sport nutrition enthusiast,

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button